Namaku Triyani, diumurku yang gak muda ini banyak menyimpan kepahitan hidup. Satu hal yang sungguh membebani hatiku adalah kebencianku sama bapakku. Sejuta bahkan tak terhitung lagi berapa banyaknya sumpah serapah yang aku lontarkan untuk bapakku .
Saat umurku 15th,
Siang itu aku janji mengerjakan PR di rumah Tati, tapi nggak tahu kenapa di depan
sekolah aku melihat paklikku berdiri, tak jauh di mana dia berdiri nampak sepeda bututnya ditaruh begitu saja.
“Cepat pulang nduk, ditunggu bapak “ bisik paklik di telingaku, aku pandangi wajahnya yg kusam tampak tegang bulir-bulir keringat menetes di dahinya.
“ Ono opo to paklik?, aku mau ke rumah temanku…” batinku pasti ada hal penting di rumah.
Tak banyak bicara paklik tarik tanganku “ayo cepet pulang nduk daripada nanti bapak marah besar” wajah paklik tampak panik.
Beberapa orang tampak hilir mudik dipekarangan rumah, tampak di dalam rumah beberapa bercakap-cakap. Aku masuk lewat pintu samping disitu aku liat simbok menangis, “ada apa mbok?” simbok diam saja. Ia bangkit dari duduknya lalu matanya di usap dengan ujung bajunya. Tangannya menarikku untuk keruangan depan. “ Nha ini kang anakku prawan yang mau tak kawinke sama anak sampeyan, piye?” dari suara bapakku aku bisa merasa ada rasa lega dalam hatinya bapak.
Siang itu rasanya bagai disambar geledek disiang bolong, aku benci bapak…aku mau sekolah aku mau jadi seperti bu fitri guruku yang cantik dan pintar itu tapi semuanya harus aku kubur karena aku harus kawin seperti perintah bapak.
Aku benciiiiiiiii bapakkkkk
Saat umurku 17th
Rasanya mau mati saja rumah tanggaku bagai neraka, suami tiap hari kelayapan nggak kerja padahal perut anakku harus diisi nggak bisa ditunda. Belum lagi kelakuan suamiku yang suka main tangan, bahkan yang paling buat hatiku perih saat anakku yg masih batita harus menjadi pelampiasan lelaki bejat suamiku.
“Kamu tidur baik-baik ya nak, ibu cuci baju dulu” sambil kukecup dahi anakku yang tidur lelap. Belum lama ku tinggal anakku ke sumur, aku dengar jeritan suara anakku didalam rumah. Aku lihat anakku duduk dilantai meraung-raung disampingnya bapaknya berdiri agak sempoyongan tiba-tiba anakku ditendangnya hingga terlempar beberapa langkah. Sontak aku lari ku bopong anakku tapi saat aku menunduk untuk mengangkat denok anakku tendangan mendarat ditubuhku disusul tinju dan tamparan terus menghujam kepadaku. Lalu yang terjadi kemudian sekelilingku gelap, dan….. aku pingsan…………….
Hidupku kacau balau seperti ini gara-gara bapakku….aku benciiiiii bapakkkkkkk
Saat umurku 18th
Statusku janda beranak satu, untung saja hak asuh denok jatuh ketanganku karna umurnya masih balita apalagi denok masih menyusu.
Untuk menyambung hidup aku jadi buruh cuci di kompleks perumahan diujung dusunku, saat subuh aku berangkat sambil kugendong anakku yang masih tidur. Pulang hampir lepas petang saat anakkupun terkantuk-kantuk letih digendonganku. Bila musim panas rasa sedih tidak begitu terasa namun betapa sedih hatiku bila musim hujan tiba saat dingin pagi menggigit dan ditengah rintik hujan anakku harus ikut kehujanan hingga seringkali bajunya basah kena hujan bahkan bibirnya biru kedinginan…..
Aku benci bapakkkkkkkk…… aku jadi ibu yang tidak bisa membahagiakan anakku…
Kini umurku 28 th
Denok anakku sudah menginjak remaja, aku ingin dia sekolah tinggi hingga jadi wanita yang dihargai . Walaupun aku buruh cuci akan kuusahakan sekuat tenagaku menyekolahkan denok .
Aku nggak mau tahu dimana mantan suamiku, kudengar kabar burung sekarang bapak anakku denok itu dipenjara karena membunuh perempuan di lokalisasi .
Tapi aku merasakan ganjalan dihatiku dengan rasa kebencianku pada bapakku yang nggak pernah hilang, aku capek aku letih dengan rasa ini. Beberapa bulan lalu ada sepupuku menjemputku untuk pulang karena bapak sakit keras, sejujurnya aku pengen pulang melihat bapak dan juga aku kangen simbok namun rasa benciku begitu kuat hingga menahanku untuk pulang. Hingga ada susulan kemudian membawa kabar kalau bapakku sudah tiada.
Seribu perasaan sedih , marah, kecewa campur aduk dan aku pulang menjelang liang kubur bapakku ditutup tanah.
Aku binggung…..
Bagaimana bisa lepas dari rasa benci pada bapakku yang begitu kuat????
Akankah kubawa mati rasa benci ini??? Aku mau hidup bahagia …siapa yang bisa membantuku keluar dari jurang kebencian dan nestapa ini????
- Selesai -
Membangun Komunikasi Efektif II ~ Attitude Dalam Komunikasi Efektif
11 tahun yang lalu


Genre yang berbeda, belum bisa kasi komen banyak cuma mau nunggu lanjutannya :)
mungkin terlalu pendek kalo dijadikan cerpen mbak, jadikan bersambung aja :D
Penulisan dah bagus kok..
Jafeto Likes this :D
Iya jaf, anak2 mang pada nggak sabar nunggu lanjutannya crita ini :) Thanks buat komennya yah..
sangat menarik mba yuni..
ceritanya jangan terlalu singkat
saya suka bagian pertama dan kedua
LANJUTKAN...
sekian dan terima kasih...